Remah Biskuit
Ada masa dimana suara berteriak parau namun menggantung di langit malam. Tanpa bintang, tanpa lepas, tak mampu menerobos dinding - dinding ekspresi yang sejatinya rapuh. Bagai remahaan biskuit renyah dengan butiran - butirannya yang jatuh terbuang. Merasa sebegitu rapuhnya. Merasa dunia tak berpihak padanya. Tapi dia lupa. Bahwa ada yang mau mendengar keluh kesahnya. Ada yang bersedia mendengar isak tangisnya. Ada Sang Khalik yang amat baik padanya. Yang selalu mampu mendengar suara hamba-hambanya. Dia yang tak pernah pergi, yang abadi. Dialah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Allah swt.